<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
	<channel>
		<title>SDN BEDAHAN ONLINE</title>
		<link>http://sdbedahan.ucoz.com/</link>
		<description></description>
		<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 13:53:28 GMT</lastBuildDate>
		<generator>uCoz Web-Service</generator>
		<atom:link href="https://sdbedahan.ucoz.com/news/rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
		
		<item>
			<title>SUATU BUDAYA MENAIKKAN NILAI</title>
			<description>Kalau anda, para pendidik, sempat membaca totto chan, buku yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, seorang mantan murid SD yang didirikan oleh Sosaku Kobayashi, sebuah SD yang sangat revolusioner dalam gaya belajar dan pengajarannya, anda akan berpikir ulang ketika anda akan mengatrol nilai para murid. Sekolah yang didirikan oleh Kobayashi adalah sekolah yang benar-benar unik. Bagaimana tidak unik jika metode pendidikan Keboyashi, seperti yang ditulis oleh Kuroyanagi di halaman-halaman terakhir bukunya, adalah sebuah cara mendidik yang dilandasi rasa yakin bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak yang baik. Bahwa kalau ada anak yang tidak berwatak baik, berarti watak baik itu telah dicemari dan dirusak oleh lingkungan yang buruk atau pengaruh negatif dari orang dewasa disekitarnya. Kobayashi mendirikan sekolah itu dengan tujuan untuk mengembalikan watak baik anak-anak dan mengembangkannya, sehingga mereka akan memiliki kepribadian yang khas di masa dewasanya.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Maka, mengacu pada keyakinan Kobayashi, jika kita mengatrol nilai siswa berarti kita, sadar atau tidak, telah merubah fungsi sekolah yang semula sebagai tempat pencerahan pikiran dan perilaku menjadi lingkungan yang ikut andil dalam merusak watak baik anak. Di sekolah, mereka, secara tidak langsung, diajari kecurangan dan ketidakjujuran. Mereka belajar untuk mencari jalan pintas dan tidak belajar untuk menjadi ulet dan pekerja keras.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Yang kurang tepat, sehingga timbul budaya menaikkan nilai, adalah pandangan...</description>
			<content:encoded>Kalau anda, para pendidik, sempat membaca totto chan, buku yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, seorang mantan murid SD yang didirikan oleh Sosaku Kobayashi, sebuah SD yang sangat revolusioner dalam gaya belajar dan pengajarannya, anda akan berpikir ulang ketika anda akan mengatrol nilai para murid. Sekolah yang didirikan oleh Kobayashi adalah sekolah yang benar-benar unik. Bagaimana tidak unik jika metode pendidikan Keboyashi, seperti yang ditulis oleh Kuroyanagi di halaman-halaman terakhir bukunya, adalah sebuah cara mendidik yang dilandasi rasa yakin bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak yang baik. Bahwa kalau ada anak yang tidak berwatak baik, berarti watak baik itu telah dicemari dan dirusak oleh lingkungan yang buruk atau pengaruh negatif dari orang dewasa disekitarnya. Kobayashi mendirikan sekolah itu dengan tujuan untuk mengembalikan watak baik anak-anak dan mengembangkannya, sehingga mereka akan memiliki kepribadian yang khas di masa dewasanya.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Maka, mengacu pada keyakinan Kobayashi, jika kita mengatrol nilai siswa berarti kita, sadar atau tidak, telah merubah fungsi sekolah yang semula sebagai tempat pencerahan pikiran dan perilaku menjadi lingkungan yang ikut andil dalam merusak watak baik anak. Di sekolah, mereka, secara tidak langsung, diajari kecurangan dan ketidakjujuran. Mereka belajar untuk mencari jalan pintas dan tidak belajar untuk menjadi ulet dan pekerja keras.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Yang kurang tepat, sehingga timbul budaya menaikkan nilai, adalah pandangan bahwa kecerdasan diukur dari memiliki nilai-nilai sempurna di setiap mata pelajaran-jika seorang anak tidak mendapat nilai yang baik, pasti dia tidak cerdas. Sungguh suatu pandangan yang bodoh. Kita bisa lihat di sekitar. Anak yang pulang dengan buku raport yang &apos;hitam&apos; sempurna, orang tua akan sangat gembira, membelikannya hadiah dan membanggakannya dihadapan orang lain. Tetapi ketika nilainya &apos;merah&apos;, orang tua akan cemberut, memarahi dan menghukum, bahkan mungkin malu dengan anaknya yang (dengan sangat sembrono dicap sebagai anak) bodoh.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;&apos;Penyakit&apos; ini tidak hanya menjangkiti orang tua, tetapi, kemudian, berturut-turut pendidik ( yang tidak mau dianggap sebagai pendidik gagal karena tidak bisa mencerdaskan siswa ), sekolah (yang ogah disebut sebagai sekolah tidak bermutu) dan seterusnya, sehingga lama-kelamaan pengatrolan nilai menjadi sebuah budaya baru.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Orang tua, kita (para pendidik), sekolah dan seterusnya lupa bahwa esensi pendidikan bukanlah pada angka yang ditulis di lembar rapot atau transkrip nilai. Kita lupa bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang panjang. Proses yang melelahkan inilah yang paling penting. Saya, mengajar bahasa Inggris di sekolah pinggiran kota, pernah mendengar siswa saya yang mengatakan bahwa dia tidak akan menjual es cendol sampai ke Inggris. Siswa saya itu tidak menyukai pelajaran yang saya ampu. Yang dia maksudkan dengan perkataannya tadi adalah, dia tidak perlu fasih berbahasa Inggris untuk mendapatkan uang. Saya jawab memang betul. Dia bisa jadi tidak akan bergantung pada keahliannya berbahasa Inggris untuk mendapatkan penghidupan, tetapi jika dia tekun belajar bahasa Inggris ( dan pelajaran-pelajaran lain ) maka sebetulnya dia akan terbiasa untuk berpikir secara ajeg (kontinyu). Kalau dia sudah terbiasa berpikir secara ajeg, dia akan mendapatkan semacam &apos;kunci&apos; untuk keluar dari permakurang tepatan-permakurang tepatan yang&lt;BR&gt;dia temui di masa mendatang. Tetangga saya, seorang sarjana pertanian jurusan ilmu tanah keluaran IPB, bekerja sebagai pegawai bank yang sukses. Taufiq Ismail, penyair hebat itu, adalah dokter hewan lulusan IPB juga. Apakah Tufiq Ismail bodoh hanya karena ia lebih fokus pada kepenyairannya daripada menjadi dokter hewan? Sekali lagi, proses lebih penting daripada angka.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Kalau kita, para pendidik, mau sedikit meluangkan waktu membaca Frames of Mind, buku yang ditulis oleh Howard Gardner, profesor kognisi dan edukasi di Universitas Harvard, kita pasti tidak akan memaksa untuk menuliskan nilai yang tidak sesuai dengan keadaan anak didik kita. Gardner mengatakan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya berupa kecerdasan linguistik dan matematis logis seperti yang telah diakui secara luas. Tetapi masih ada lagi kecerdasan yang lain seperti kecerdasan musikal, kecerdasan spasial dan visual, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal serta kecerdasan naturalis. Perbedaan tipe kecerdasan antara orang perorang akan mempengaruhi gaya belajar, gaya bekerja dan karakter mereka.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Jika seorang anak di kelas kita adalah anak dengan tipe kecedasan kinestetis, mengapa kita harus memaksa dia agar cerdas secara matematis-logis? Memang bukan suatu hal yang mustahil, jika mau kerja keras dan tekun, seseorang dengan jenis kecerdasan tertentu akan mendapatkan jenis kecerdasan yang lain. Tetapi akan ada banyak waktu yang terbuang. Sedangkan kalau ia menekuni apa yang menjadi jenis kecerdasannya, dia mungkin telah dapat mengembangkannya dengan sangat baik. Sekarang apakah tidak janggal jika anak-anak- saya tuliskan secara jamak, bukan tunggal- kita secara akal-akalan tampak cerdas di semua pelajaran? Seharusnya sekolah menjadi lingkungan yang tepat bagi tiap-tiap siswa untuk mengembangkan tipe kecerdasan mereka.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Pengatrolan nilai, alih-alih meningkatkan martabat pendidik dan sekolah, hanya akan mematikan kecerdasan dan motivasi siswa. Siswa yang dapat nilai baik, padahal dia tahu kalau dia tidak berhak nilai itu, cenderung akan meremehkan pendidik. Begitu juga dengan siswa yang benar-benar cerdas, yang mati semangat belajarnya karena merasa jerih payahnya selama ini tidak dihargai. Akan lebih celaka lagi ketika anak-anak yang mendapat nilai &apos;fantastis&apos; di raport, tidak lolos tes masuk SMA. Angka-angka itu tidak berguna lagi. Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah pun luntur.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Kita pernah memiliki tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Syahrir dan lainnya. Mereka adalah tokoh-tokoh terkenal dan disegani tidak hanya dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Mereka adalah produk pendidikan di masa itu. Sedangkan sekarang, mengapa pendidikan kita saat ini gagal melahirkan tokoh-tokoh besar seperti mereka? Karena pendidikan saat itu menyakini bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Yang dilalui setapak demi setapak. Sedangkan pendidikan saat ini sangat mendewakan hasil, bukan proses. Perubahan paradigma pendidikan kita ini tidaklah berdiri sendiri melainkan dampak dari perubahan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Lihatlah sinetron-sinetron kita, lihatlah tayangan-tayangan untuk mencari idola-idola yang banyak peminat, kesemuanya itu mendidik itu untuk bergaya hidup senang, tetapi dengan usaha minimal. Mental seperti ini telah merasuki sistem pendidikan kita.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Kita harus berorientasi pada jangka panjang, bukan berorientasi pada jangka pendek. Dengan demikian, kalau anda rajin melihat empat mata-nya Thukul, anda akan berpandangan, bukan hanya menirukan, bahwa menaikkan nilai itu katrok. &lt;P&gt;source : http://pak-gunawan.blogspot.com/&lt;/P&gt;</content:encoded>
			<link>https://sdbedahan.ucoz.com/news/suatu_budaya_menaikkan_nilai/2010-07-01-24</link>
			<category>Pendidikan</category>
			<dc:creator>rozi45</dc:creator>
			<guid>https://sdbedahan.ucoz.com/news/suatu_budaya_menaikkan_nilai/2010-07-01-24</guid>
			<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 13:53:28 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>HAKIKAT PROSES BELAJAR MENGAJAR</title>
			<description>A. Konsep Belajar&lt;BR&gt;Banyak definisi tentang belajar beberapa diantaranya :&lt;BR&gt;1. Belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.&lt;BR&gt;2. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang – ulang dalam situasi yang sama, dan perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan – keadaan sesaat seseorang.&lt;BR&gt;3. Belajar adalah merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.&lt;BR&gt;4. Belajar sebagai suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.&lt;BR&gt;5. Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan daya fakir dan hal lain kemampuannya.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar pada hakikat adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Walaupun pada kenyataannyatidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.&lt;BR&gt;Dalam belajar yang terpenting adalah proses bukan hasil yang di...</description>
			<content:encoded>A. Konsep Belajar&lt;BR&gt;Banyak definisi tentang belajar beberapa diantaranya :&lt;BR&gt;1. Belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.&lt;BR&gt;2. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang – ulang dalam situasi yang sama, dan perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan – keadaan sesaat seseorang.&lt;BR&gt;3. Belajar adalah merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.&lt;BR&gt;4. Belajar sebagai suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.&lt;BR&gt;5. Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan daya fakir dan hal lain kemampuannya.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar pada hakikat adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Walaupun pada kenyataannyatidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.&lt;BR&gt;Dalam belajar yang terpenting adalah proses bukan hasil yang diperolehnya. Artinya belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri, adapun orang lain itu haya sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar agar belajar itu mendapatkan hasil baik.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;BELAJAR KONSEP DAN BELAJAR PROSES&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Berkaitan degan jenis belajar perlu dibedakan antara belajar konsep dan belajar proses. Belajar konsep lebih menekankan hasil belajar berupa pemahaman factual dan prinsipil terhadap bahan atau isi pelajaran yang bersifat kognitif. Sedangkan belajar proses atau keterampilan dipelajari dan diorganisir secara tepat.&lt;BR&gt;Apabila persoalan belajar keterampilan proses itu dikaitkan dengan CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif ) maka tampak beberapa kesamaan konseptual, baik belajar proses maupun keterampilan proses, keduanya mempunyai cirri – cirri :&lt;BR&gt;1. Menekankan pentingnya makna belajar untuk mencapai hasil hasil belajar yang memadai.&lt;BR&gt;2. Menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.&lt;BR&gt;3. Menekankan bahwa belajar adalah proses timbale balik yahg dapat dicapai oleh anak didik.&lt;BR&gt;4. Menekankan hasil belajar secara tuntas dan utuh.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Belajar keterampilan proses seperti halnya belajar siswa aktif, bukan gagasan yang bersifat kaku. Belajar keterampilan proses tidak dapat dipertentangkan dengan belajar konsep, sehingga keduanya merupakan dua jenis yang terpisah.&lt;BR&gt;Keduanya merupakan garis kontinum, yang satu menekankan perolehan atau hasil, pemahaman factual dan prinsipil, sedangkan belajar keterampilan proses tidak mungkin terjadi bila tidak ada materi atau bahan pelajaran yang dipelajari. Sebaliknya, belajar konsep tidak mungkin tanpa keterampilan proses pada siswa. Yang dapat dikemukakan adalah terdapat watak belajar yang mempunyai kadar keaktifan tinggi dan kadar keaktifan rendah. Oleh karena itu cara belajar cara belajar siswa aktif tidak selamanya berorientasi keterampilan, tetapi juga dapat mengarah pada penguasaan sejumlah konsep, teori, prinsip dan fakta pada saat proses belajar berlangsung.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;B. Konsep Mengajar&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyamoaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilaksanakan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa. Oleh karena itu rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana. Dalam arti membutuhkan rumusan yang dapat meliputi seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu sendiri.&lt;BR&gt;Mengajar merupakan suatu aktifitas mengorganisasikan atau mengukur ( mengelola ) lingkungan sehingga tercpta suasana yang sebaik – baiknya dan menghubungkannya dengan peserta didik sehingga terjadi proses proses belajar yang menyenangkan.&lt;BR&gt;Atau dengan gaya bahasa lain yang lebih umum adalah mengajar merupakan penciptaan system lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar . system lingkungan ini terdiri dari komponen – komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang memainkan peranan serta dalam hubungan social tertentu.&lt;BR&gt;Kedudukan guru dalam pengertian ini sudah tidak lagi dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau sekolah, tetapi diangap sebagai manager learning pengelola belajar ) yang perlu senantiasa siap membantgu dan membimbing para siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh dan menyeluruh.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;C. Hakikat Proses Belajar Mengajar&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Dalam seluruh proses pendidikan, kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantun kepada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan secara professional.&lt;BR&gt;Setiap kegiatan belajar mengajar selalu melibatkan dua pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengajar merupakan pencipta kondisi belajar siswa yang didesain secara sengaja, sistematis dan berkesinambungan. Sedangkan anak sebagai subjek pembelajaran merupakan pihak yang menikmati kondisi belajar yang diciptakan oleh guru.&lt;BR&gt;Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini melahirkan interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan ajar sebagai medium. Pada kegiatan belajar mengajar, keduanya ( guru dan murid ) saling mempengaruhi dan memberi masukan. Karena itulah kegiatan belajar mengajar harus merupakan aktivitas yang hidup, srat nilai dan senantiasa memiliki tujuan.&lt;BR&gt;Rumus belajar mengajar tradisional selalu menempatkan anak didik sebagai obek pembelajaran guru sebagai subjeknya. Rumusan seperti ini membawa konsekuensi terhadap kurang bermaknanya kedudukan anak dalam proses pembelajaran, sedangkan guru menjadi factor yang sangat dominant dalam keseluruhan proses belajar mengajar.&lt;BR&gt;Pendekatan baru melihat bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan milik guru dan murid dalam kedudukannya yang setara, namun dari segi fungsi berbeda. Anak merupakan subjek pembelajaran dan menjadi inti dari setiap kegiatan pendidikan. Proses pengajaran yang mengesampingkan martabat anak bukanlah proses penddikan yang benar. Bahkan merupakan kekeliruan yang tidak bias diabaikan begitu saja. Karena itulah inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai bila anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini bukanlah dituntut dari segi fisik, tatapi juga segi kejiwaan. Apabila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Sama halnya ini dengan seorang anak didik tidak belajar kalau tidak ada perubahan dalam dirinya.&lt;BR&gt;Biasanya permasalahan yang dijumpai oleh para guru ketika berhadapan dengan sejumlah anak didik adalah masalah pengelolaan kelas. Apa, siapa, bagaimana, kapan dan dimana adalah serentetan pertanyaan yang perlu dijawab dalam hubungannya dengan permasalahan pengelolaan kelas. Peranan seorang guru sangat penting dalam proses berjalannya kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, misalnya menenangkan siswa yang rebut dikelas, yang berjalan, tidak mendengarkan, hal ini semua berpulang kepada kekereatifan dari seorang guru yang dapat mengatur ( sebagai manager ) dan mengkondisikan kelas menjadi terkendali dan sesuai dengan yang diharapkan.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;D. Ciri – Ciri Belajar Mengajar&lt;BR&gt;Belajar dan mengajar merupakan dua aktivitas yag berlangsung secara bersamaan, simultan dan memiliki focus yang dipahami bersama. Sebagai suatu aktivitas yang terencana, belajar memiliki tujuan yang bersifat permanent, yakni terjadinya perubahan pada anak didik. Ciri – ciri perubahan dalam pengertian belajar meliputi :&lt;BR&gt;1. Perubahan yang terjadi berlangsung secara sadar, sekurang – kurangnya sadar bahwa pengetahuannya bertambah.&lt;BR&gt;2. Perubahan yang bersifat kontinyu dan fungsional, yaitu suatu proses yang selalu berkembang sesuai pembelajaran yang didapat.&lt;BR&gt;3. Perubahan belajar bersifat positif dan aktif.&lt;BR&gt;4. Perubahan dalam belajar bukan bersifatt sementara atau sesaat.&lt;BR&gt;5. Perubahan dalam belajar memiliki tujuan dan terarah.&lt;BR&gt;6. Perubahan dalam belajar mencakup pada seluruh aspek tingkah laku bukan bagian – bagian tertentu secara parsial.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Perubahan prilaku pada siswa dalam konteks pengajaran jelas merupakan produk dan usaha guru melalui kegiatan mengajar. Hal ini dapat dipahami karena mengajar merupakan suatu aktivitas khusus yang dilakukan guru untuk menolong dan membimbing anak didik memperoleh perubahan dan pengembangan skill ( keterampilan ), attitude ( sikap ), appreciation ( penghargaan ) dan knowledge ( pengetahuan ).&lt;BR&gt;Akhirnya dapat diketahui bahwa kegiatan belajar mengajar memiliki ciri – ciri sebagai berikut :&lt;BR&gt;a. Memiliki tujuan, yaitu untuk membentuk anak dalam suatu perkembangan tertentu.&lt;BR&gt;b. Terdapat mekanisme, prosedur, langkah – langkah, metode dan teknik yang direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.&lt;BR&gt;c. Focus materi jelas, terukur, terarah dan terencana dengan baik.&lt;BR&gt;d. Adanya aktivitas anak didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.&lt;BR&gt;e. Actor guru yang cermat dan tepat.&lt;BR&gt;f. Terdapat pola aturan yang ditaati guru dan anak didik dalam proporsi masing – masing.&lt;BR&gt;g. Limit waktu untuk mencapat tujuan pembelajaran.&lt;BR&gt;&lt;P&gt;h. Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi produk.&lt;/P&gt;&lt;P&gt;source : http://pak-gunawan.blogspot.com/&lt;BR&gt;&lt;/P&gt;</content:encoded>
			<link>https://sdbedahan.ucoz.com/news/hakikat_proses_belajar_mengajar/2010-07-01-23</link>
			<category>Pendidikan</category>
			<dc:creator>rozi45</dc:creator>
			<guid>https://sdbedahan.ucoz.com/news/hakikat_proses_belajar_mengajar/2010-07-01-23</guid>
			<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 13:48:59 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Pendaftaran Siswa Baru SDN Bedahan</title>
			<description>PENDAFTARAN SISWA BARU SDN BEDAHAN - BABAT&lt;br&gt;TAHUN PELAJARAN 2010 - 2011&lt;br&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;https://sdbedahan.ucoz.com/brosur_pendaftara.jpg&quot;&gt;</description>
			<content:encoded>PENDAFTARAN SISWA BARU SDN BEDAHAN - BABAT&lt;br&gt;TAHUN PELAJARAN 2010 - 2011&lt;br&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;https://sdbedahan.ucoz.com/brosur_pendaftara.jpg&quot;&gt;</content:encoded>
			<link>https://sdbedahan.ucoz.com/news/pendaftaran_siswa_baru_sdn_bedahan/2010-06-22-22</link>
			<category>Pendidikan</category>
			<dc:creator>rozi45</dc:creator>
			<guid>https://sdbedahan.ucoz.com/news/pendaftaran_siswa_baru_sdn_bedahan/2010-06-22-22</guid>
			<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 18:00:38 GMT</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>